Tuesday, April 15, 2008

Riwayat Hidup (Baru) Ahmad Dhani #2


oleh Nanas Homo

Semalam, Toean Marquis de Sade datang pada saja. Katanja, beliaoe tidak soedi memboenoeh kedji Tuan Ahmad Dhani.

Saja tanjakan, “Mengapa Toean? Apakah Toean berbelas kasih padanja?”

“Bukan, bukan begitu, Anak Homo,” begitoe rupanja beliaoe panggil saja. “Saja terlampau djidjik padanja. Hingga dengan melihatnja akan membikin saja moentah belatoeng saban hari. Dan itoe soenggoeh menjiksa bathin saja.”

“Ah, baiklah kalau begitoe, Toean.”

“Silakan Anak Homo jang menggantikan posisi saja.”


***


Maka saja poelang ke pondok dengan riang hati. Saja pikir harus toenggoe lama baroe bisa boenoeh-boenoeh ini orang. Ternjata seperti perkiraan saja, Toean Sade memang benar-benar moerah hatinja.

Seperti jang diberitahoekan rekan Masygul, dalam episode ini Toean Ahmad Dhani akan mati sebanjak sembilan belas kali. Memilukan, sungguh. Tetapi setelah saya tjek dalam tjatatan acherat, rupanja memang telah tertoelis seperti itoe. Djadi, apa maoe dikata. Saja hanja mendjalankan tugas dari Jang Maha Esa.

Gosip poenja gosip. Rupanja kali ini Toean Ahmad Dhani terlahir sebagai pitiek.

O wow. Abrakadabra pemirsa. Tahoe kan pitik? Itoe, anak ajam.

Maka, toegas saja adalah mentjari pitiek ini. Sampai ke oejoeng doenija poen saja tlah bertekad besi menemoekannja.

Dalam masa pekerdjaan ini, saja tlah berkorespondensi dengan anggauta Keboen Binatang Siloeman. Dengar-dengar, reputasi mata-mata mereka memang oke poenja. Toktjer, sodara. Ketoea mereka tlah merekomendasikan pada saja oentoek mengoetoes para belalang tempoer dan tjapung-tjapung imoet. Tetapi oentoek antisipasi, saja djoega pesan gerombolan tjlurut oentoek melantjarkan aksi. Menoeroet hemat saja, djalan bawah tanah akan mendjadi lebih aman bagi misi ini.

Dan malam ini, saja tengah menoenggoe berita dari para mata-mata. Mari kita lihat, siapa jang akan datang.

“Tjiit, tjiit, tjiit!!”

“Tjiit, tjiit, tjiit!!”

Nah ternjata, tjlurut jang lebih doeloe berhasil.

“Kemana teman-temanmoe jang lainnja?”

“Sebagian besar terboenoeh. Karena hinggap-hinggap, djadi digaploek oleh manoesia-manoesia bengis.”

“Sisanja?”

“Kesemprot pestisida, Bentjong.”

Ah, ja, baiklah. “Djadi, dimana roepanja pitiek itoe berada?”

“Di poelaoe sabrang. Masih di dalam teloer, dipelihara petani djagung.”

Ah, ja. Baiklah. Soepaja oeroesan tjepat selesai, baiknja tjepat-tjepat saja berangkat ke tanah Pak Tani. Lantas menumpang andong ajaib disoepiri Toean Potjong saja segera brangkat. Tjatatan: kalau andongnja disoepirin manoesia, maka tidak kan dapat menjebrangi laoetan loeas.


***


Esok, tanggal 26 Mei 1974. Teloer itoe akan menetas dan dalam beberapa hari si pitiek reinkarnasi Toean Ahmad Dhani akan tewas. Tentoe sadja, dengan tjara jang imoet. Karena saja Nanas Homo Hermaprodit Imoet.

“Toean Potjong, djam berapa roepanja kita akan tiba di tempat?”

Toean Potjong menganggoek-anggoek sebanjak empat kali. Berarti kami akan tiba pukul empat soeboeh jang mana tidak lama lagi. Saja djuga soedah tidak sabar lagi oentoek melihat si pitiek ini. Ingin tahoe tjemana roepanja setelah mati terboenoeh sebagai Amit Dani.

Eh, roepanja. Sambil menoenggoe tibanja andong Toean Potjong ini saja ketidoeran. Pastilah Toean Potjong ini bingoeng membangoenkan saja. Soalnja beliaoe tidak poenja tangan dan wajahnja tertoetoep kafan.

“Hmmpfh! Hmpfh! Mpfh! Mpfh!” Beliaoe bertreak-treak sambil lontjat-lontjat di atas andong. Bikin saja terdjoengkir dari tempat doedoek saja.

Saja memboeka mata disamboet terpaan angin soeboeh. Segar benar, di pedesaan pagi-pagi. Setelah meregangkan otot-otot, saja siap mentjuri teloer sasaran. Rumahnja tidak djaoeh dari tempat Toean Potjong parkir dia poenja andong.

“Toenggoe sebentar ja, Pak!”

Saja bergegas menghampiri rumah petani yang dimaksud Tjlurut. Soesah sekali roepanja oentoek masoek ke pekarangan. Pagarnja tinggi-tinggi betul. Saja teliti benar-benar pagarnja. Pasti ada tjelah oentoek nanas ukuran imoet seperti saja ini. Aha! Benar sadja. Saja temukan tjelah kecil. Tjukup oentoek tubuh bontet saja.

Saja segera menjelinap-jelinap. Pas liwat dapoer, saja dengar soedah ada soeara mengadoek-adoek. Rasanja Bu Tani soedah bangoen, bikin air minoem buat Pak Tani moengkin. Saja bergerak lebih tjepat. Mengetjek satoe per satoe kandang ajam Pak Tani. Soelit djuga rupanja mentjari teloer si pitiek ini. Khan bentuknja teloer sama sadja. Terpaksa saja haroes mengontak Ki Jambang Masygul dan Srikandi Bulu Jambon terlebih dahoeloe oentoek minta petoeah.

Mereka sama-sama bilang, “Jang teloernja ketjil sendiri!”

Dan ja, segera saja temoekan teloer itu di kandang paling bawah. Indoeknja mendelik sewot tapi demi misi, saja beranikan diri toek mentjolong teloer itu. Saja dipatoek! Sialan. Saja balas tempeleng itu ajam betina tidak tahoe diri! Beloem pernah rasa didjedjelin nanas mentah ja?! Huh, saja djadi sebel! Boeroe-boeroe nanas bawa itoe teloer. Biarkan sadja itu ajam betina koak-koak panggil madjikannja. Bersama andong Toean Potjong, saja poelang kembali ke pondok.


***


Sampainja di pondok, teloer ini saja beri tempat jang angat oentoek menetas dengan baik dalam beberapa djam lagi. Pasti lutju benar wajahnja ini. Sambil toenggoe, saja djalan-djalan pagi ke pasar teroes keliling-keliling kampoeng.

Pulangnja ...

“Tjiap! Tjiap!”

Ja tuhan! Si pitiek soedah menetas! Saja segera berlari menghampirinja. Disitoe, di antara retakan tjangkang teloer. Mengangkang si pitiek. Lutju sekali! Warnanja koening-kemoening seperti pitiek-pitiek lainnja.

Tapi kok ... Sedjak kapan pitiek bisa poenja djenggot?

Ih, djidjik. Masak ada djenggotnya. Matanja juga menjiratkan mata seorang boeaya darat. Hah! Kesalahan! Si pitiek gagal djadi lutju. Baiknja dikasih makan sadja tiga kali doeloe supaja agak sihat. Habisnja itu dimatiin sadja. Pasti penasaran dengan tjerita matinja si pitik ja?


***


Djadi. Saja telah menemoekan anak kecil paling broetal di kampoeng tempat saja tinggal ini. Namanja Koetil. Si Koetil ini akan membantoe saja mematikan si pitik.

“Koetil.”

“Ya Toean?”

“Kamoe maoe emas batangan enggak?”

“Boeat apa Toean?”

“Terserah maoe kamoe apakan.”

“Maoe banget kalaoe begitoe, Toean! Koetil djadi bisa bikin roemah germo.”

“Baiklah. Koetil. Pertanjaan kedoea.”

“Apa itoe, Toean?”

“Kamoe soeka enggak, kalaoe saja kasih doedoek di sofa jang bisa mentoel-mentoel?”

“Soeka sekali, Toean! Memangnja Toean punja?”

“Kemari, Nak.”

Saja adjak si Koetil ganteng ini ke roeang tamu. Soedah saja siapkan indomie goreng djika-djika anak pandai ini lapar.

“Tjoba dech Koetil, kamu doedoek disini. Empoek banget. Saja pesan chusus dari luar negeri. Kamoe pasti suka.”

Koetil doedoek disana. Dan moelai mentjoba saran saja. Benar sadja, Koetil soeka sekali.

“Wah Toean! Kalau saja poenja emas batangan, saja djuga ingin poenja sofa kayak ini di roemah saja!”

Kembali pantat si Koetil lontjat-lontjat di sofa. Menikmati benar roepanja dia.

“Ini djuga boeat saja, Toean?”

Koetil menjambar piring indomie di hadapanja. Bikin saja makin seneng.

“Tentoe saja, Nak! Makan jang banjak biar kamoe tjepat besar!”

Koetil makan dengan lahap. Tidak loepa saja beri dia minoem soesoe sapi.

Kemudian Koetil kembali doedoek di sofa baru saja. Pantatnja kembali lontjat-lontjat. Semangat benar! Sampai ketjapean.

“Koetil, saja tinggal sebentar jah? Dinikmati sadja sofanja.”

“Baiklah, Toean.”

Saja tinggalkan doeloe Koetil, ingin boeang air besar. Sekembalinja, tidak loepa saja bawakan emas batangan jang saja djandjikan pada Koetil. Lumajan, oentoek bantoe-bantoe perekonomian keloearga Koetil. Djuga, siapa tahu, Koetil bisa djadi germo keren.

“Koetil, ini emas batangan jang saja djandjikan tadi.”

Koetil menerimanja dengan senang hati. Oh, oh, betapa hati saja ikoet gembira melihat wadjah Koetil bertjahaja.

“Terima kasih, Toean!”

Koetil mentjium tangan saja lalu pamitan poelang. Saja antar dia sampai ke pekarangan. Djuga titip salam oentoek keloearga besarnja. Lantas saja kembali ke dalam. Ingin mengetjek pekerdjaan Koetil. Benar ataoe tidak anak itoe bekedja. Segera saja angkat bantalan sofa baroe saja.


***

Nah, tjoba tengok. Si pitiek Ahmad Dhani sudah djadi benjek gara-gara goyang heboh pantat Koetil.


T A M A T


Sunday, April 13, 2008

It's Time


Sastrawan-sastrawan Jahat are Back!

Thursday, April 10, 2008

19 Hidup Ahmad Dhani


Di cerita ini Ahmad Dhani sudah mati. Tenang, tenang. Orang “beragama” seperti Ahmad Dhani pasti tahu kalau yang namanya Pengadilan Akherat itu ada. Maka setelah mati akibat sifilis pada usia 61 tahun, di sinilah Dhani berada: Padang Mahsyar, antrean nomor 62.039.263.654.394.812. Jangan lupa, matahari cuma satu jengkal di atas kepalanya, dan dengan goblok dia mencak-mencak dalam hati, menyalahkan keluarganya yang tidak memberinya kacamata hitam dan tabir surya sebagai bekal kubur.

Manusia dengan nomor antrean 62.039.263.654.394.811 akhirnya selesai diadili. Ahmad Dhani kebat-kebit maju ke hadapan Tuhan. Pengennya sih protes, kenapa dia harus menunggu begitu lama, padahal di dunia para “wartawan” selalu memburunya untuk mendapatkan gosip terbaru. Tapi Tuhan terlalu agung, dan Ahmad Dhani cuma… well, Ahmad Dhani. Dia pun berdiri saja. Terdiam. Kakinya sudah bolak-balik meleleh akibat panas lantai dari logam yang ditambang khusus dari Jahanam (sekedar info, Padang Mahsyar bukan padang pasir, tapi padang logam). Meleleh, tumbuh lagi, meleleh, tumbuh lagi. Sudah hampir dua ribu kali kakinya meleleh dan tumbuh lagi, tapi Tuhan belum juga bicara padanya. Maka Dhani memberanikan diri untuk buka mulut.

“Tuhan, udah dong diemnya. Entah berapa milyar tahun sudah saya mengantri. Setelah sampai di sini kok malah dicuekin?”

“LANCANG!” Satu malaikat yang melayang-layang di sisi Tuhan murka besar, buktinya huruf-hurufnya besar semua. “KAMU PIKIR KAMU SIAPA BERANI-BERANINYA BICARA DULUAN?!”

Dhani gemeteran. “Saya Ahmad Dhani, pentolannya grup Dewa 19, Dewa, terus Dewa 19 lagi. Musisi, produser, juga tokoh di balik kelompok-kelompok penyanyi cewek seperti Ratu dan Dewi Dewi.”

“KURANG AJAR! MEMANGNYA TUHAN TIDAK TAHU?!”

“Terus kenapa Tuhan diam aja?”

“SEBAB TUHAN TERLALU JIJIK SAMA KAMU!”

“Kok jijik sih, Tuhan?”

“YA KARENA KAMU AHMAD DHANI!” Semua malaikat tereak serentak.

“Tapi saya kan rajin ibadah, sudah naik haji, selalu kasih sedekah, menghormati orang tua saya, dan… dan… Banyak lagi deh.”

“LALU MENURUT KAMU KENAPA TIMBANGAN INI JOMPLANG DI TAKARAN DOSA KETIMBANG PAHALA?” Malaikat tadi menunjuk neraca di depannya.

Ahmad Dhani terdiam. Ia melirik ke arah titian rambut dibelah tujuh. Manusia dengan nomor antrean 62.039.263.654.394.811 baru saja kepleset. Dhani pun meringis, pengen nangis, tapi air matanya telanjur kering akibat dehidrasi. “Ampun!” lantas teriaknya. “Jangan masukin saya ke neraka.”

“HEH! KAMU ITU PASTI MASUK NERAKA, TAPI NGGAK SERU KALAU KAMU MASUK NERAKA SEKARANG. ADA KEPUTUSAN LAIN BUAT KAMU.”

“Keputusan apa?”

“LEBIH OKE KALAU KAMU DIKEMBALIKAN KE DUNIA LAGI…”

Ahmad Dhani mendadak kegirangan, wajahnya berbinar-binar. “Terima kasih! Terima kasih!”

“JANGAN SENANG DULU, GOBLOK! SUDAH DIPUTUSKAN KALAU KAMU AKAN HIDUP DAN MATI DI SEMBILAN BELAS DUNIA PARALEL, DAN SEMBILAN BELAS KALI PULA KAMU AKAN HIDUP DAN MATI DENGAN TERSIKSA. KAMI SUDAH MEMILIH SEMBILAN BELAS SASTRAWAN TERJAHAT YANG AKAN MENULISKAN SEMBILAN BELAS RIWAYAT HIDUP BARU KAMU YANG PASTINYA PENUH DENGAN DERITA YANG AMAT SANGAT TERLALU SAKIIIIIIT SEKALI BANGET. SIAP?”

Mulut Ahmad Dhani menganga. Ia mengedip, dan ketika matanya membuka ia sudah berada di tempat lain. Tempat yang gelap dan becek. Sepertinya rahim. Soalnya riwayat hidup (baru) nomor 1 akan segera dimulai:


SINOPSIS RIWAYAT HIDUP (BARU) AHMAD DHANI #1
oleh Ki Jambang Masygul

Di Zakarata pada tanggal 26 Mei 1973, Dhani terlahir sebagai laki-laki yang tetap mirip Ahmad Dhani tapi dikasih nama Amit Dani. Bapak kuli pemabuk, dan ibu langsung meninggal lima detik setelah melahirkannya. Bapak yang tidak punya rasa kasih sayang dan tidak punya duit melemparnya ke tempat pembuangan sampah ketika usianya baru tiga belas hari. Lalu ia dipungut sama pemulung, dijual ke germo, dibesarkan di rumah bordil, kerap dimarahi dan ditempiling, dan pada usia 12 tahun di-test drive sama seorang tante yang mekinya bau amis. Kemudian Si Papi berkali-kali menawarkannya pada perempuan hidung belang dan berkali-kali pula bilang bahwa Amit masih perawan biar bayarannya mahal. Umur tujuh belas tahun Amit melarikan diri dan tak lama kemudian mendaftarkan diri sebagai calon TKL (di dunia paralel ini yang kebanyakan jadi pelacur dan dikirim kerja ke luar negeri adalah laki-laki). Umur delapan belas, setelah tinggal di asrama pelatihan yang sumpek dan kerap disodomi empat security, akhirnya Amit dapat lampu hijau untuk berangkat ke Malingsia.

Tapi nasib Amit memang sial. Majikannya, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, memiliki jiwa sadokhis, jadi seneng banget menyiksanya. Setelah jambangnya dibikin masygul, Amit ditonjok, dicambuk, disayat, dihantamkan ke dinding, disiram air panas, disiram air anget, terus pas nyadar airnya anget mereka masak air sampai mendidih terus disiramkan lagi ke kepalanya si Amit, sampai tampang Amit yang pas-pasan jadi buruk rupa tiada tara, udah gitu jari-jarinya dipotong terus disuruh ngepel, matanya dicolok terus disuruh nyari kutu di badan anjing herder rabies piaraan si majikan, lidahnya dibakar terus disuruh ngejilatin knalpot motor yang masih panas sampai bersih. Merasa belum cukup sadis, majikannya kadang nyuruh si Amit main lompat tali di atas papan yang ditancepin paku berkarat. Kalo sedang nggak sadis, mereka menyuruh Amit membolak-balik ikan yang lagi digoreng pake hidungnya, atau paling-paling manjat pohon kaktus di halaman belakang. Iseng memang mereka, tapi mau gimana lagi, we’re talking about Amit Dani here!

Oh iya, si Amit juga nggak pernah dikasih makan. Jadi kalo laper dia terpaksa makan tokainya sendiri, kalau haus minum pipisnya sendiri. Kalau beruntung, Amit bisa nangkep kecoa atau laba-laba buat disantap. Tiap malem Amit digembok di kandang anjing, sementara si anjing tiduran di kamar pembantu sambil nonton tivi. Pada suatu malam Amit berdoa agar Tuhan mencabut saja nyawanya, maka Tuhan pun berbaik hati dengan mengirimkan banjir besar di seantero Malingsia. Amit yang terperangkap di kandang anjing mati kehabisan napas akibat kelelep. Tamat deh. Sekarang giliran Om Marquis de Sade untuk menuliskan riwayat kedua. Silakan, Om...